Entry: Amal Yang Diterima Saturday, January 14, 2006



Amal yang Diterima

Oleh : Iin Rosliah



Cinta dan semangat saja tak cukup dijadikan modal agar amal diterima Allah
SWT. Ada dua syarat yang mutlak harus dipenuhi supaya amal tidak sia-sia di
hadapan-Nya.

Pertama, ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, bukan karena motivasi
duniawi atau ingin meraih puji. Kedua, muwafaqah, artinya amal yang
dilakukan sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah SAW. Ikhlas
dan muwafaqah, ibarat dua sisi mata uang, saling terkait dan tak dapat
dipisahkan. Ibnu Katsir saat menafsirkan QS Al Kahfi: 110 menguraikan,
ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW merupakan dua rukun amal yang
akan diterima. Rukun adalah tiang. Sebuah bangunan akan terwujud manakala
kedua tiangnya berdiri tegak. Begitu pula amal, akan diterima ketika dua
syaratnya terpenuhi.

Ketika kita beribadah karena ingin mendapat sanjungan sesama, berarti hati
kita telah mendua. Dalam kacamata agama, ini dikategorikan sebagai perbuatan
syirik yang akan menghalangi diterimanya amal oleh Allah SWT. ''Barang siapa
yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal
saleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah
kepada-Nya.'' (QS Al Kahfi;110). Ibnul Qayyim mengibaratkan orang yang
beramal tanpa keikhlasan seperti seorang musafir yang mengisi penuh
kantongnya dengan pasir. Ia membawanya, tapi tidak mendapatkan manfaat apa
pun.

Walau secara lahiriah tampak besar dan bagus, bila tak dihiasi dengan
keikhlasan, amal apa pun menjadi tak bermakna dalam pandangan Allah SWT.
Alhasil, bukannya pahala yang diraih, justru azab yang didapat. Jangan pula
sampai terjadi seperti tiga orang Muslim di hadapan mahkamah Allah SWT
kelak. Imam Muslim meriwayatkan, ada seorang mujahid, seorang alim, dan
seorang dermawan. Bukan surga yang diperoleh, justru neraka yang didapat
ketiganya.

Pasalnya, amal yang mereka lakukan hanya untuk mengejar prestise. Yang satu
berjuang agar disebut syuhada. Yang kedua menuntut ilmu dan mengajarkannya
agar disebut ulama. Dan yang terakhir menginfakkan hartanya agar dinilai
sebagai dermawan. Setelah ikhlas, syarat berikutnya adalah kesesuaian setiap
amal dengan tuntunan dalam Alquran dan sunah. Ini mengandung makna, ibadah
apa pun yang diperbuat, hendaknya dilandasi oleh ilmu.
Beribadah tanpa dasar ilmu, cenderung menjadikan perasaan sebagai standar.
Baik buruk bukan diukur oleh dalil, tapi semata-mata menimbang rasa.
Alhasil, mudah tergelincir dalam perbuatan bid'ah, mengada-ada dalam urusan
ibadah. Rasulullah SAW bersabda, ''Barang siapa mengerjakan satu amalan yang
tak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.'' (HR Bukhari dan
Muslim).

sumber:
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=230310&kat_id=14

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments