Assalamu'alaikum
~Wilujeng Sumping ~
Mangga Geura Lalinggih
Mangga diaos
punten saaya-aya we :)

Ŕisyah
Bandung
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, March 08, 2006
Bagaimana cara meraih cinta Allah?

 

Setiap muslim pasti bercita-cita untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab bila kita sudah menjadi kekasih-Nya, seluruh kebaikan duniawi dan ukhrawi bisa kita gapai dengan mudah. Persoalannya, bagaimana agar cita-cita tersebut menjadi kenyataan? Sesungguhnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menggapai cinta-Nya, namun karena keterbatasan lahan, saya akan membahas yang pokoknya saja.

Pertama, membaca, memahami, dan mengamalkan Al Qur'an. Cara ini akan melahirkan cinta dan kerinduan kepada-Nya, syukur dan sabar, tawadhu (rendah hati) dan khusyu, serta seluruh sifat yang bisa mengantarkan pada cinta dan ridha-Nya. (Ibnu Rajab, Ikhtiyaar Al-Uula, hal 114)

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami (Allah) turunkan kepadamu, yang didalamnya penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mau menggunakan akalnya". (Q.S. Shaad 38:29).

Al Qur'an adalah kitab suci yang harus difahami, bukan sekedar dibaca. Fakta menunjukkan, banyak yang rajin membaca Al Qur'an tapi tidak faham isinya, sehingga tidak bersemangat untuk mengamalkannya. Untuk itu, biasakan juga membaca terjemahannya untuk membantu pemahaman.

Pengalaman menunjukkan, awalnya memang agak susah mencerna maksud terjemahan Qur'an, namun kalau kita sering membacanya, lama kelamaan akan mudah memahaminya. Sebenarnya ini berlaku untuk semua ilmu, kalau kita tidak pernah membaca buku-buku psikologi misalnya, akan susah mencerna isinya, tapi kalau sudah sering, insya Allah kesulitan ini bisa diatasi.

Saat membaca Al Qur'an, para sahabat mengutamakan pemahaman dan implemantasi/pengamalan. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Kebiasaan kami, jika mempelajari sepuluh ayat Al Qur'an, kami tidak akan melampauinya sebelum kami memahami secara benar maknanya dan mengamalkannya". (HR. Athabari dalam tafsirnya dengan sanad yang shahih). Sementara kita, lebih mengutamakan khatam (tamat) ketimbang faham. Alangkah indahnya kalau kita sering khatam dan faham serta implementatif.

Setelah faham, langsung diaplikasikan dalam kehidupan. Anas r.a. mengatakan, "Abu Thalhah r.a. --seorang shahabat dari kaum Anshar di Madinah-- adalah orang yang banyak hartanya, di antara harta yang paling disenanginya adalah kebun kurma yang menghadap ke mesjid, bahkan Rasulullah saw. pun pernah singgah di kebun itu.

Ketika turun firman Allah yang berbunyi:
"Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai" (QS. Ali Imran 3:92), Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah saw seraya berkata, "Ya Rasulullah, sungguh aku telah faham ayat itu, maka harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma yang menghadap ke mesjid. Untuk itu saksikanlah, demi Allah aku sedekahkan kebun itu untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya. Maka silakan Ya Rasulullah bagikan sebagaimana Allah telah mengajarkannya kepadamu." (H.R. Bukhari-Muslim). Kalau kita bagaimana?

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunah setelah melaksanakan yang wajib. (Ibnul Qayyim, Madaarijus Saalikiin, jilid 3, hal. 13)

Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ". . . Tidak ada amalan yang paling Aku cintai dari hamba-Ku kecuali apa yang telah diwajibkan kepadanya. Dan Aku mencintai hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah . . ." (H.R. Bukhari).

Menurut riwayat ini, ada dua hal yang menyebabkan Allah mencintai kita. Pertama, konsisten melaksanakan ibadah-ibadah fardu/wajib, seperti shalat lima waktu, shaum Ramadhan, zakat, haji kalau sudah mampu, dll. Kedua, melaksanakan amalan-amalan sunah, seperti shalat rawatib, tahajud, dhuha, shaum senin-kamis, dll. Ibadah-ibadah ini akan menjadi pupuk bagi hati kita sehingga tetap hidup dan subur.

Allah swt. akan merespon taqarrub (pendekatan diri) kita dua kali lipat dari apa yang kita lakukan. Rasulullah saw. pernah bersabda melalui hadits qudsinya, Allah swt. berfirman:

"Jika ia (manusia) bertaqarrub kepada-Ku satu jengkal, Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia bertaqarrub kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepada-Nya satu depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari." (H.R.Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Jadi, kalau kita memberi satu cinta kepada Allah, Dia akan memberi dua cinta kepada kita. Kalau kita memberi tiga cinta, maka Allah akan memberi empat cinta, demikian seterusnya. Karena itu, dekatkanlah diri kepada-Nya dengan ibadah-ibadah sunah setelah kita melaksanakan yang wajib, pasti Dia akan mencintai kita.

Ketiga, memperbanyak dzikir, baik dengan lisan ataupun perbuatan.
Allah swt. memerintahkan untuk memperbanyak dzikir dalam setiap kesempatan,

"Dan dzikirlah (ingatlah) Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung." (Q.S. Al Jumu'ah 62:10).

Ada dua macam dzikir, muqayyad dan muthlaq. Dzikir Muqayyad adalah dzikir yang jenis dan jumlahnya telah ditetapkan Rasulullah saw. seperti dzikir setelah shalat fardhu (wajib) membaca Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing 33 kali. Karena Rasulullah telah menetapkan jenis dan jumlahnya, kita tidak boleh menambahi atau menguranginya.
Dzikir muthlaq adalah dzikir yang jenis dan jumlahnya tidak ditetapkan oleh Rasulullah saw., namun disesuaikan pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Misalnya saat menghadapi ujian kita agak gelisah, nah kita bisa berdzikir apa saja sesuai kemauan, bisa baca astaghfirullah, subhanallah, alhamdulillah, dll. Jumlahnya pun terserah kita, berapa saja boleh.

Allah swt. akan mencintai hamba-Nya yang selalu menyertakan dzikir dalam seluruh aktifitas kesehariannya. Mendapat kebahagiaan mengucapkan alhamdulillah, tertimpa musibah mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raaji'un, melihat kemaksiatan mengucapkan astaghfirullah, memulai perbuatan baik mengucapkan bismillah, melihat sesuatu yang mengagumkan mengucapkan subhanallah, dll. Ini indikator bahwa kita selalu mengingat-Nya, sehingga Allah swt. pun akan mengingat kita.

"Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku (Q.S. Al Baqarah 2:152).

Allah swt. akan menyertai orang-orang yang selalu berdzikir kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits qudsi,

"Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku. Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Ketika ia menyebut-Ku ditengah-tengah sekelompok orang, maka Aku menyebutnya ditengah-tengah kelompok yang lebih baik dari mereka (kelompok malaikat)." (H.R.Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain disebutkan, "Sesungguhnya Allah swt. berfirman: Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku, dan selama kedua bibirnya masih bergerak menyebut nama-Ku."(H.R. Ahmad, Bukhari, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim )

Dzikir jangan diartikan sempit (sekedar dengan lisan), tapi juga harus tercermin dalam perbuatan. Kalau kita berbisnis, bekerja, belajar, dll. dengan berpegang teguh pada nilai-nilai kebanaran dan kejujuran, ini juga disebut dzikir. Allah swt. menyebutkan ciri-ciri orang yang dincintai-Nya, "Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dalam keadaan berbaring…" (QS. Ali Imran 3: 191). Ini yang dimaksud dzikir dalam perbuatan atau aktifitas.

Apabila ketiga hal di atas dilaksanakan, yakni memahami Qur'an, meningkatkan amaliah wajib dan sunah, serta selalu dzikir dengan ucapan dan perbuatan, insya Allah kita akan menjadi kekasih-Nya, dan kita akan rindu bertemu dengan-Nya, "Barangsiapa yang mendambakan bertemu dengan Allah, Allah pun mendambakan bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, Allah pun akan merasa benci bertemu dengannya." (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Ad-Darimi, dan Nasa'i).

Realisasikan cinta dan rindu kita kepada-Nya dengan cara mengerjakan apa yang Allah cintai, meskipun diri kita sangat membenci dan menolak perbuatan tersebut, serta tinggalkan apa yang Allah benci, meski sebenarnya kita sangat mencintai dan menginginkannya. Semoga kita diberi kekuatan untuk bisa meraih cinta-Nya. Amiin. Wallahu A'lam.


Posted at 05:54 pm by Iis
Comments (4)  

Monday, February 20, 2006
Yaa Allaah

19 02 06....

Episode baru dalam hidupku

kan kutempuhi

Yaa Allaah

bimbinglah hamba

tuk menjalaninya...

Aamiin


Posted at 07:46 pm by Iis
Comment (1)  

Saturday, January 14, 2006
Menjadi Orang Paling Kaya

Menjadi Orang Paling Kaya

Oleh : Nur Kolis Mughni



''Ridhalah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau
menjadi orang yang paling kaya.'' (HR Turmudzi). Penggalan hadis Rasulullah
SAW di atas merupakan bentuk nyata betapa susahnya menumbuhkan rasa qanaah
atau merasa cukup.

Hadis itu mengandung maksud orang paling kaya adalah mereka yang qanaah atas
apa pun pemberian Allah SWT. Betapa positif dan bermartabatnya hidup ini
bila seseorang selalu merasa ridha dan cukup dengan segala kondisinya.
Dengan qanaah, yang sedikit akan menjadi banyak dan yang banyak akan menjadi
berkah.

Kesenangan tidak akan sempurna dan nikmat tidak akan menjadi besar kecuali
dengan memutuskan angan-angan memiliki seperti yang dimiliki orang lain.
''Himpunlah rasa putus asa terhadap apa-apa yang ada di tangan manusia.''
(HR Ibnu Majah).

Sikap tidak menerima atas apa yang telah dimiliki, hanya akan menguras
keterkaitan hati dengan Allah SWT. Akibatnya, kehidupan yang sebenarnya
tidak akan bisa dirasakan. Sementara kehidupannya menjadi tidak tertata.
Ridha dengan pemberian, mensyukuri pemberian Allah SWT, dan
menginvestasikannya untuk hal yang bermanfaat, maka inilah sebenarnya yang
disebut kaya nan mulia. Allah SWT berjanji kepada orang yang hatinya
dipenuhi keridhaan akan memenuhi hatinya dengan kekayaan, rasa aman, penuh
dengan cinta, dan tawakkal kepada-Nya.

Sebaliknya, bagi yang tidak ridha, hatinya akan dipenuhi dengan kebencian,
kemungkaran, dan durhaka. Pantaskah sebagai seorang hamba mengaku
kekurangan, sementara pada waktu yang sama, kita masih memiliki akal. Andai
kata akal itu dibeli orang atau menukarnya dengan emas dan perak sebesar
gunung, kita pasti enggan menerimanya.

Kita memiliki dua mata yang sekiranya dibayar dengan permata sebesar Gunung
Uhud, pasti tidak rela. Saat ini banyak orang enggan mengakui dan menyebut
dirinya orang paling kaya. Kekayaan hanya mereka ukur dengan materi,
banyaknya harta, dan pangkat yang tinggi.

Bersyukurlah atas nikmat agama, akal, kesehatan, pendengaran, penglihatan,
rezeki, keluarga, penutup (aib), dan nikmat lain yang tak terhitung. Sebab,
di antara manusia itu ada yang hilang akalnya, terampas kesehatannya,
dipenjara, dilumpuhkan, atau ditimpakan bencana.
Kini saatnya untuk menyadari bahwa kita sebenarnya adalah orang yang paling
kaya. Caranya dengan selalu qanaah dan merasa ridha. Bersyukur dengan apa
yang kita miliki, sehingga hidup lebih bermakna, berkah, serta lebih
berarti. Jadikanlah keridhaan itu dengan mengosongkan hati dari berbagai
sangkaan dan membiarkannya hanya untuk Allah SWT.


sumber:
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=229741&kat_id=14

Posted at 05:18 pm by Iis
KoMeNtAr  

Amal Yang Diterima

Amal yang Diterima

Oleh : Iin Rosliah



Cinta dan semangat saja tak cukup dijadikan modal agar amal diterima Allah
SWT. Ada dua syarat yang mutlak harus dipenuhi supaya amal tidak sia-sia di
hadapan-Nya.

Pertama, ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, bukan karena motivasi
duniawi atau ingin meraih puji. Kedua, muwafaqah, artinya amal yang
dilakukan sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah SAW. Ikhlas
dan muwafaqah, ibarat dua sisi mata uang, saling terkait dan tak dapat
dipisahkan. Ibnu Katsir saat menafsirkan QS Al Kahfi: 110 menguraikan,
ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW merupakan dua rukun amal yang
akan diterima. Rukun adalah tiang. Sebuah bangunan akan terwujud manakala
kedua tiangnya berdiri tegak. Begitu pula amal, akan diterima ketika dua
syaratnya terpenuhi.

Ketika kita beribadah karena ingin mendapat sanjungan sesama, berarti hati
kita telah mendua. Dalam kacamata agama, ini dikategorikan sebagai perbuatan
syirik yang akan menghalangi diterimanya amal oleh Allah SWT. ''Barang siapa
yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal
saleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah
kepada-Nya.'' (QS Al Kahfi;110). Ibnul Qayyim mengibaratkan orang yang
beramal tanpa keikhlasan seperti seorang musafir yang mengisi penuh
kantongnya dengan pasir. Ia membawanya, tapi tidak mendapatkan manfaat apa
pun.

Walau secara lahiriah tampak besar dan bagus, bila tak dihiasi dengan
keikhlasan, amal apa pun menjadi tak bermakna dalam pandangan Allah SWT.
Alhasil, bukannya pahala yang diraih, justru azab yang didapat. Jangan pula
sampai terjadi seperti tiga orang Muslim di hadapan mahkamah Allah SWT
kelak. Imam Muslim meriwayatkan, ada seorang mujahid, seorang alim, dan
seorang dermawan. Bukan surga yang diperoleh, justru neraka yang didapat
ketiganya.

Pasalnya, amal yang mereka lakukan hanya untuk mengejar prestise. Yang satu
berjuang agar disebut syuhada. Yang kedua menuntut ilmu dan mengajarkannya
agar disebut ulama. Dan yang terakhir menginfakkan hartanya agar dinilai
sebagai dermawan. Setelah ikhlas, syarat berikutnya adalah kesesuaian setiap
amal dengan tuntunan dalam Alquran dan sunah. Ini mengandung makna, ibadah
apa pun yang diperbuat, hendaknya dilandasi oleh ilmu.
Beribadah tanpa dasar ilmu, cenderung menjadikan perasaan sebagai standar.
Baik buruk bukan diukur oleh dalil, tapi semata-mata menimbang rasa.
Alhasil, mudah tergelincir dalam perbuatan bid'ah, mengada-ada dalam urusan
ibadah. Rasulullah SAW bersabda, ''Barang siapa mengerjakan satu amalan yang
tak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.'' (HR Bukhari dan
Muslim).

sumber:
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=230310&kat_id=14


Posted at 05:14 pm by Iis
KoMeNtAr  

Teman ...

teman adalah harta yang sangat berharga...

mereka dapat membuatmu tersenyum,membantu dan mendukungmu menuju kesuksesan...

mereka meminjamkan sepasang telinganya untuk berbagi berbagai hal2 yang indah denganmu...

mereka selalu membuka hatinya untukmu...


Posted at 05:07 pm by Iis
KoMeNtAr  

Monday, September 05, 2005
kita sMua saMa saja..


TIDAK ada keistimewaan kita
di antara kita sesama kita
mari kita baca diri kita dengan seksama
kita orang ternama, kita rasa istimewa
kita orang kaya, kita rasa orang luar biasa
kita profesor, kita anggap orang pilihan manusia
kita orang berkuasa, kita anggap manusia super
Siapa sebenarnya kita?
Kejadian kita dari apa?
emas? permata? intan? berlian?
bukankah dari mani juga
kalau tidak makan dan minum bagaimana?
kan lapar dan dahaga
bila banyak buat kerja
atau jauh perjalanan kita
bukankah letih juga?
macam manusia lainnya
sekali-sekala bukankah sakit juga?
akhirnya berubat untuk menyembuhnya
selepas makan apa yang terjadi pada kita?
bukankah ke jamban juga?

Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad
ATTAMIMI

Posted at 07:52 pm by Iis
KoMeNtAr  

Kebaikan Seorang Hamba Itu...........

kebaikan seorang hamba itu bermula dari
membaiki sholatnya.
dari situ bermula segalanya kebaikan dunia dan
akhirat yag diidamkan.

apabila sholat tepat lahir batinnya ALLAH
anugrahkan rahmat dan berkat
ALLAH masukan hidayah ke dalam hatinya
jadilah pribadi agung
akhlak yang mulia lahir dari sholat yang dihayati
tepat syarat rukunnya.

karena itulah betulkan lah sholat , sebelum yg lain
sholat tiang agama
sholat ibu ibadah
sholat sumber kebaikan
belajar bersuci dengan tepat adalah wajib dilakukan
agar sholat dilakukan dengan tepat
karena bersuci adalah syarat sah sholat
sucikanlah diri dari hadas, sucikanlah diri dari najis,
sucikanlah hati dari segala sifat jahat
sebelum menghadap Tuhan
lalu sholatlah dengan khusyu
menghadap Tuhan Cinta Agung
faham hayatilah apa yg dibaca
dirikanlah sholat
betulkanlah sholat
hayatilah sholat!

pada orang yang khusyu sholatnya
Allah anugrahan sifat mahmudah, sabar, redha,
tawakkal
segala sifat yang terpuji menghiasi dirinya
itulah peranan sholat.

jika benar2 dirasakan kita menghadap Tuhan yang
Maha Agung
Raja segala raja
hanya padaNya kita menyembah
hanya padaNya kita memuja
hanya padaNya kita bergantung dan meminta
janganlah anggap jiwa manusia dapat dibetulkan
tanpa sholat.

jika sholat telah sudah dicuaikan atau
dilakukan tanpa penghayatan,
maka seluruh bentuk kebaikan akan tertutup dan
terhalang
kalau begitulah artinya, tanda kita memutuskan
hubungan dengan Allah

Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad
ATTAMIMI


Posted at 07:50 pm by Iis
KoMeNtAr  

meRasakan kerja ALLAH...

Walaupun Tuhan itu Zat yang Maha Agung Kita tak dapat melihatNya dengan mata Namun Tuhan marah atau suka itu dapat dirasa Redha dan murkaNya dapat dikesan PerhatianNya pada kita dapat dirasa kemaafanNya juga dapat dirasa Jika sholat terasa lezat, menunjukkan ALLAH ada perhatian dengan kita Jika tidak dirasa lezatnya sholat berarti kita ada dosa mohon ampunlah dengan ALLAH Bila ketika kita mohon ampun jiwa kita rasa lembut airmata taubat berguguran, tanda ALLAH terima taubat kita Apabila jiwa kita gelisah tanda ALLAH murka pasti ada dosa Mohon ampunlah pada ALLAH, IA pasti mengampunkan kita Jika kita mudah bermujahadah tanda ada rahmat ALLAH, bersyukurlah kepadaNya Kalau kita berusaha mendekatkan diri pada ALLAH Kemudian makin dijujinya kita tanda IA redhai kita Untuk bersihkan dosa dan tinggikan derajat Kalau kita kaya dan mudah saja untuk berbagi pada orang, tanda Allah Taala memberi nikmat dengan redhaNya Jika setelah makin berat untuk menderma dan memberi karenaNya tanda kekayaan dan kesenangan itu diberi secara murka [Abuya syeikh Imam Ashaari Muhammad ATTAMIMI]

Posted at 07:50 pm by Iis
KoMeNtAr  

Saturday, August 27, 2005
Terima Kasih Ya Allah.............

selama 25 tahun............ Engkau berikan segalanya untuk hamba tak mampu ku menghitung semua ni'mat-Mu

Posted at 07:48 pm by Iis
KoMeNtAr  

Wednesday, May 11, 2005
:: seandainya aku jatuh hati ::

Yaa Allah ...seandainya aku jatuh hati
Izinkan aku Menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu
Agar tidak terjatuh dalam jurang Cinta semu

Yaa Muhaimin, seandainya kami jatuh cinta,
Jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi
cintaku pada-Mu

Yaa Allah... Seandainya aku jatuh cinta
Cintakan aku pada seseorang yang melabuhkan
cintanya pada-Mu
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu

Yaa Rabbul Izzati ...seandainya aku rindu,
Rindukanlah aku pada seseorang yang merindukan
syahid dijalan-Mu
Jagalah rinduku padanya agar tidak lalai dalam
merindukan ridla-Mu

Yaa Mujiib as Saailiin Terimalah Permohonanku


Yang Selalu Mencintai-Mu,


Posted at 01:30 pm by Iis
Comment (1)  

Next Page